KUBU RAYA – 30 Juni 2025 | Pandawa5News.Com
Viralnya kabar mengenai adanya penjualan solar subsidi seharga Rp9.000 per liter di sebuah SPBU wilayah Kalimantan Barat menuai beragam reaksi. Banyak sopir truk yang mengeluhkan harga yang jauh di atas ketentuan resmi, hingga menuding SPBU sebagai biang kerok di balik mahalnya harga solar subsidi di lapangan.

Namun, pihak pengelola SPBU dengan tegas membantah tudingan tersebut. Mereka memastikan bahwa *penjualan solar subsidi di SPBU tetap dilakukan sesuai harga resmi pemerintah*, yakni *Rp6.800 per liter**m, dan mengikuti standar operasional yang berlaku.

“Penjualan solar kami lakukan sesuai SOP. Barcode tetap digunakan, setiap transaksi tercatat, dan seluruh alur penjualan diawasi CCTV. Kalau ada pihak membeli solar dari SPBU lalu menjual kembali di luar dengan harga lebih tinggi, itu sudah di luar tanggung jawab dan kewenangan manajemen SPBU,”** tegas seorang perwakilan pengelola SPBU, Jumat (30/6/2025).

Penjualan Solar di SPBU Sesuai Aturan

Pihak SPBU menekankan bahwa mereka tunduk sepenuhnya pada regulasi yang ditetapkan Pertamina dan pemerintah.

“Semua solar subsidi yang kami salurkan tercatat melalui sistem digital. Setiap pembelian wajib menggunakan barcode MyPertamina untuk memastikan distribusi tepat sasaran. Tak ada solar yang dijual di atas harga resmi dari nozzle SPBU,”jelasnya.

Selain itu, pihak SPBU menegaskan bahwa mereka siap diaudit kapan pun oleh instansi berwenang untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi.

Pengecer dan Realitas Sosial

Soal pengecer yang menjual solar dengan harga lebih mahal, pihak SPBU menyebut perlu ada pendekatan yang lebih adil dalam menilai persoalan ini.

> “Kami melihat banyak pengecer di lapangan hanya berusaha mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun memang, praktik semacam ini tak bisa terus dibiarkan tanpa pengaturan yang jelas. Di sinilah kami minta pemerintah hadir lebih aktif mengatur dan mengawasi distribusi BBM subsidi agar tidak terjadi kebocoran di lapangan,” tambahnya.

Kelangkaan Solar: Bukan Salah SPBU

Pengelola SPBU juga mengungkapkan bahwa tingginya permintaan solar subsidi dan keterbatasan pasokan di lapangan menjadi salah satu pemicu munculnya harga tinggi di tingkat pengecer.

> “SPBU hanya sebagai penyalur. Kami menyalurkan sesuai jatah yang diberikan Pertamina. Ketika pasokan terbatas, permintaan meningkat, maka muncullah celah bagi oknum untuk memainkan harga di luar SPBU,” ujarnya.

Mereka pun menyesalkan munculnya tudingan negatif tanpa bukti kuat.

“Kami harap masyarakat tidak mudah terprovokasi. Jangan sampai SPBU menjadi kambing hitam atas masalah yang sebenarnya terjadi di rantai distribusi di luar SPBU,”** tegas perwakilan tersebut.

Desakan Agar Pemerintah Bertindak

Pihak SPBU mendesak pemerintah daerah, Pertamina, dan aparat penegak hukum untuk segera mengambil langkah konkret mengatasi penyelewengan solar subsidi.

> Pemerintah harus memperkuat sistem pengawasan, menindak tegas mafia BBM, dan mengoptimalkan distribusi solar agar tidak ada lagi kelangkaan atau harga tinggi di lapangan. Kami mendukung penuh upaya tersebut,”tutupnya.

Siap Bekerja Sama

SPBU di Kalimantan Barat juga menyatakan kesiapannya untuk berkoordinasi dengan aparat jika diperlukan.

> Kami siap terbuka diperiksa, diaudit, dan bekerja sama dengan aparat. Tujuan kami jelas: menyalurkan BBM subsidi tepat sasaran, menjaga kepercayaan masyarakat, dan mendukung kebijakan pemerintah,” pungkasnya.

Tim: Pandawa5News.Com